Teknik Analisis Konflik

Konflik merupakan sesuatu yang melekat dalam kehidupan manusia, ketika berinteraksi, berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan berbagai pihak dalam berbagai kondisi dan peristiwa. Analisis konflik dalam konteks pembangunan merupakan suatu alat yang digunakan untuk menelaah, menemukan dan memformulasikan kondisi masyarakat secara komprehensif dalam kerangka program pembangunan mencakup perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Konflik adalah mengenai persepsi dan pengertian orang-orang mengenai kejadian, kebijakan dan institusi. Analisis konflik membantu para pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan kembali perspekstif mereka, yang lebih sering sangat dipengaruhi oleh emosi, salah-pengertian, asumsi, kecurigaan dan ketidakpercayaan. Dalam situasi-situasi konflik, emosi dapat dengan mudah mengalahkan logika dan kenyataan. Karena itu penting untuk membedakan opini dari fakta. Analisis konflik bukan kegiatan penelusuran yang berdiri sendiri tetap berkaitan erat dengan elemen dan tugas pokok pengembangan dan pola pengelolaan konflik secara berkelanjutan.

 

Analisis Konteks

Analisis konflik merupakan gambaran menyeluruh tentang keadaan, pola intensitas, dan karakter masyarkat meliputi kekuatan hubungan antarpemangku kepentingan yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembangunan dan upaya bina damai. Kajian dinamika konflik adalah serangkaian kegiatan pengumpulan, pengolahan dan formulasi data keadaan masyarkat yang meliputi pemahaman konteks, interaksi, intervensi, pelaku, masalah dalam rangka perumusan program pembangunan.

Konteks merupakan istilah yang merujuk pada lingkungan misalnya, keluarga, masyarakat, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi. Dalam hal ini dapat berarti konteks geografis atau lingkungan sosial dimana konflik terjadi.Interaksi merupakan hubungan dua arah, misalnya antar individu, antarkelompok, antarwilayah, antaretnis, dan antarkelembagaan yang mempengaruhi pencapaian tujuan. Interaksi yang terjadi diantara para pihak dapat berkontribusi dalam memperburuk atau mengurangi kekerasan dan potensi konflik.Intervensi merupakan serangkaian tindakan dalam bentuk kebijakan, program atau kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat untuk menata hubungan atau interaksi pemangku kepentingan dalam mencegah konflik dan membangun perdamaian dalam jangka panjang.Pelaku merupakan pihak-pihak atau pemangku kepentingan baik secara individu, kelompok atau organisasi yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pembangunan..Masalah/Penyebab merupakan dua istilah yang digunakan secara berbeda dalam memahami dinamika konflik untuk menilai kesenjangan ‘gap’ antara harapan dan kenyataan. Penyebab merupakan faktor dominan yang mendorong peningkatan konflik atau kesenjangan antar-kelompok dalam masyarakat.

Mengapa Analisis Konflik Diperlukan ?

Persoalan pembangunan membutuhkan situasi dan kondisi stabil. Salah satu syarat keberhasilan pembangunan adanya kondisi kondusif dan terkendali. Pembangunan akan sulit dilaksanakan, jika kondisi masyarakat dalam situasi krisis dan anomali (ketidakpastian). Pembangunan itu sendiri membutuhkan infrastruktur yang kuat karena aktivitas yang dilaksanakan sangat kompleks dan memiliki pengaruh yang luas terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat. Semakin maju kebutuhan dan harapan masyarakat dalam memperbaiki kehidupannya, maka semakin cepat pula proses perubahan yang herus dilakukan. Pemahaman yang benar tentang situasi dan keadaan suatu masyarakat akan membantu dalam memetakan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. Terutama berkaitan dengan situasi dan keadaan masyarakat menyangkut hubungan sosial. sumber daya, nilai-nilai yang telah terbangun, pendapatan masyarakat, sistem distribusi, kebijakan, pengaruh global dan penyebab ketidakstabilan yang mungkin terjadi dan dapat menghambat proses pembangunan itu sendiri.

Semakin banyak para pendamping atau juru damai memahami kondisi nyata wilayah kerjanya, semakin sedikit kemungkinan terjadi kesalahan dalam menyusun rencana kerja dan tindakan yang harus dilakukan dalam pelaksanaan program. Di sisi lain, semakin besar peluang bagi fasilitator untuk berperan dan bekerjasama dengan para para pemangku kepentingan secara efektif. Manfaat kegiatan identifikasi dan analisis konflik bagi fasilitator diantaranya :

  • Menggali isu-isu strategis berkaitan dengan konflik dan kondisi sosial yang perlu mendapat perhatian.
  • Membangun pemahaman bersama tentang hubungan konteks sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama yang lebih luas dan mendalam untuk kepentingan pengelolaan konflik.
  • Menetapkan prioritas isu yang akan ditangani.
  • Melakukan penelusuran dan pendalaman terhadap dampak dari konflik yang terjadi.
  • Mengenal akar permasalahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi konflik untuk merumuskan dan menetapkan langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk menanganinya.
  • Mengenal motif dan insentif para pemangku kepentingan berupa harapan, kebutuhan dan pandangan masyarakat tentang konflik.
  • Mengidentifikasi pola dan bentuk hubungan antara para pemangku kepentingan.
  • Menggali dan mengumpulkan informasi berkaitan dengan gejala, permasalahan dan dinamika konflik dan informasi lain yang berkaitan.
  • Menilai kapasitas kelembagaan dalam mengelola konflik.
  • Mengenal sumber daya yang dibutuhkan dalam membangun hubungan (jejaring) dengan para pemangku kepentingan untuk membangun perdamaian.
  • Meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam memecahkan masalah, menentukan masa depan, dan analisis dari para pemangku kepentingan lokal untuk menangani konflik.
  • Melibatkan peran aktif perempuan dalam menganalisis konflik. Kerjasama antara pria dan wanita mempertimbangkan isu-isu yang timbul dari peran dan tanggungjawab yang berbeda. Kaum perempuan memiliki pengaruh yang besar dalam struktur sosial dan sejumlah strategi tertentu. Hal lain untuk mengikis kelemahan berkaitan dengan partisipasi, keragaman, keberlanjutan dan efektifitas dalam analisis yang dilakukan.

Maksud dan Tujuan

Kajian terhadap konflik berhubungan erat dengan upaya pemerintah daerah dalam membangun harmonisasi antarpemangku kepentingan dan pencegahan konflik dalam pelaksanaan pembangunan. Kajian konflik dimaksudkan untuk menggambarkan secara keseluruhan tentang pola kekuatan hubungan antarkelompok, kerentanan sosial, kohesivitas kelompok, serta faktor-faktor pendorong dan penghambat perdamaian sebagai masukan dalam merumuskan kebijakan dan strategi program. Secara khusus kegiatan ini bertujuan:

  • Mengidentifikasi kekuatan hubungan antarpemangku kepentingan yang terlibat dalam program pembangunan
  • Mengidentifikasi kondisi sosial yang menyebabkan kesenjangan diantara kelompok atau antarpemangku kepentingan.
  • Mengidentifikasi faktor-faktor pendorong dan pemecah perdamaian dalam masyarakat; dan
  • Merumuskan strategi penanganan dan pencegahan konflik serta bina damai ke depan secara terpadu.

Hasil yang Diharapkan

Kajian konflik dalam proses perencanaan dapat membantu tim perencanaan khususnya Bappeda untuk mengenal kondisi sosiogeografis, budaya, sejarah perkembangan daera (profil daerah) yang berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini perlu diintegrasikan dalam kegiatan kajian daerah dan penyusunan profil daerah agar dihasilkan dokumen perencanaan yang komprehensif dan peka terhadap konflik. Perencanaan daerah harus mampu mendorong upaya bina damai dan mencegah terjadinya konflik pada saat pelaksanan program. Dengan demikian, perencana harus memiliki kemampuan untuk memformulasikan kebijakan dan arah pembangunan secara berkelanjutan, diterima oleh masyarakat dan meminimalisasi konflik di masa depan akibat keterbatasan sumber daya, sejarah konflik, perbedaan kepentingan, diskriminasi dan kesenjangan dalam masyarakat. Secara khusus kajian dinamika konflik menghasilkan hal-hal sebagai berikut;

  • Profil (gambaran umum) kekuatan hubungan antarpemangku kepentingan yang terlibat dalam pembangunan;
  • Gambaran kondisi sosial yang menyebabkan kesenjangan diantara kelompok atau antarpemangku kepentingan;
  • Inventarisasi faktor-faktor pendorong dan pemecah perdamaian dalam masyarakat; dan
  • Strategi penanganan dan pencegahan konflik serta bina damai secara terpadu.

Prinsip-Prinsip dalam Analisis Konflik

Analisis konflik didasarkan pada pandangan bahwa masyarakat memiliki struktur dan tingkat yang sangat kompleks dan membutuhkan kerangka kerja komprehensif untuk memahami masalah, persepsi, pertentangan antara kelompok, sumber daya, kelembagaan dan membangun aksi bersama dalam masyarakat. Oleh kerena itu, dibutuhkan pedoman berupa prinsip-prinsip yang disepakati bersama berdasarkan informasi yang lengkap. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis konflik.

  • analisis terhadap isu dan fenomena konflik yang terjadi. Tidak mudah merancang dan menguji alat bantu atau teknis analisis yang mampu meningkatkan kesahihan dari perangkat yang disusun.
  • Partisipasi berbagai pihak atau pemangku kepentingan untuk melakukan identifikasi, penelusuran, penilaian dan merumuskan visi bersama. Keterlibatan pihak-pihak yang berkonflik sangat membantu dalam merancang kegiatan dan menetapkan pokok strategi dalam penanganan konflik dan membangun keberlanjutan.
  • Analisis konflik harus menguji konteks pengembangan secara komprehensif mencakup aspek sosial, ekonomi, politik, sumber daya alam dan isu-isu global.
  • Kondisi psikologis pihak-pihak yang berkonflik merupakan aspek penting dalam pengelolaan konflik. Hal ini tidak berarti bahwa fakta lebih penting daripada persepsi atau perasaan, karena para pemangku kepentingan memiliki cara yang berbeda dalam memahaminya.
  • Transformasi sosial merupakan hal penting dalam menyediakan ruang kerjasama dalam mengelola konflik. Hal ini juga mencakup upaya peningkatan kapasitas lokal dalam penanganan konflik secara terintegrasi.
  • Acuan waktu mencakup perencanaan, implementasi strategi, evaluasi dan tindak lanjut dalam kerangka penahapan konflik. Aktivitas analisis konflik hendaknya menetapkan cakupan pekerjaan dan rentang waktu penyelesaian berdasarkan indikator pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
  • Fleksibilitas dan penyesuaian dalam menentukan perangkat dan cara menggunakannya bersama kelompok. Pertimbangkan pula pada saat mana mengintegrasikan dengan perangkat lainnya. Setiap tindakan atau program hendaknya dilakukan bertahap dan disesuaikan dengan situasi dan tingkat penerimaan masyarakat.

Karakteristik informasi dan data yang dikumpulkan akan berbeda pada setiap kasus. Kerapkali informasi yang lebih banyak lebih baik daripada lebih sedikit, namun tidak semua informasi relevan, valid, dapat dipercaya atau berguna dalam penarikan kesimpulan. Kebutuhan informasi perlu dibatasi oleh beberapa faktor diantaranya waktu, tenaga ahli, dan sumberdaya. Pembatasan definisi dan metodologi perlu dilakukan dalam melakukan analisis konflik agar terhindar dari penyimpulan—keputusan yang tidak tepat.

Analisis Konflik sebagai Proses

Analisis konflik bukan merupakan suatu tujuan atau target akhir dalam persoalan konflik. Analisis konflik merupakan bagian dari proses belajar masyarakat dalam membangun kesadaran kritis dan kapasitas untuk mengidentifikasi, menelaah dan merumuskan aksi bersama berkaitan isu-isu (membangun kapasitas). Untuk mewujudkan proses pembelajaran, analisis konflik harus dijalankan secara partisipatif. Melalui pertukaran informasi, orang kemungkinan besar menjadi fokus pada masalah nyata dalam proses negosiasi. Meskipun demikian, orang-orang kemungkinan akan menjadi berhati hati dalam pengungkapan beberapa jenis informasi. Secara praktis analisis konflik dilakukan pada beberapa tahap penting sebagai berikut;

Langkah 1 – Persiapan dan perencanaan. Persiapan dilakukan untuk menentukan kerangka acuan dan karakteristik tugas tim yang akan melakukan pengumpulan data dan informasi penting tentang konflik. Kerangka acuan berisi panduan kerja dalam melakukan analisis mencakup ruang lingkup kegiatan penelusuran, tujuan, output, metodologi, waktu, dan rencana biaya. Disamping itu ditetapkan pula pelaku yang terlibat dalam proses penyusunan draft dan pengumpul data. Disarankan kombinasi tim paling tidak terdiri dari unsur masyarakat (orang atau kelompok yang terlibat dalam konflik, tenaga ahli atau fasilitator dan pelaku lainnya yang dianggap memiliki kemampuan untuk mengkaji informasi sekunder yang tersedia dan mengembangkan ide, gagasan dan asumsi awal mengenai konflik.

Langkah ke 2 – Sosialisasi. Setelah acuan dan tim terbentuk, selanjutnya melakukan kontak awal kepada para pemangku kepentingan, agar seluruh kegiatan ini mendapat ruang dan dukungan penuh dari masyarakat. Dan apabila suatu saat terjadi persoalan yang menghambat proses penilaian dapat diselesaikan dengan cepat. Jelaskan peran yang perlu dimainkan oleh para pemangku kepentingan, dengarkan permasalahan dan kesulitan yang dihadapi serta perangkat pendukung lain yang digunakan.

Langkah ke 3 – Kajian awal konflik. Langkah selanjutnya fasilitator melakukan penilaian cepat (rapid assessment) untuk melakukan pengumpulan dan memferifikasi data-informasi tentang potensi, kebutuhan dan situasi sosial masyarakat secara partisipatif. Pada tahap ini, dapat dilakukan bersama masyarakat dengan membentuk tim atau kelompok kerja atau jika fasilitator setuju agar tidak terlibat, masyarakat dapat merekomendasikan tindakan selanjutnya terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Identifikasi kebutuhan dan analisis konflik yang dilakukan merupakan langkah strategis dalam memasuki wilayah konflik dan melakukan pengujian terhadap instrumen untuk menyusun rencana strategis dalam mendorong upaya perdamaian. Fasilitator menempatkan posisi sebagai penggerak untuk mendorong proses penilaian, dan penemuan akar persoalan konflik, kelembagaan dan peran yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan itu sendiri. Semua pemangku kepentingan mengikuti alur proses, metode, memahami tujuan dan hasilnya serta mampu menggunakannya untuk pengambilan keputusan. Dengan demikian, tugas fasilitator adalah untuk memberikan pengarahan, penjelasan dan memvisualisasikan secara sederhana seluruh alur proses serta target hasil yang hendak dicapai.

Langkah 4 – keterlibatan masyarakat secara dalam. Melibatkan para pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi dan menganalisis Konflik sangat penting dilakukan agar informasi dan data yang terkumpul memiliki kehandalan dan kesesuaian dengan kondisi yang sesungguhnya. Pembagian tugas dan wewenang para pemangku kepentingan tercermin pada posisi, kepentingan dan kebutuhan serta sejauhmana peran mereka dalam konteks konflik yang terjadi. Proses penelusuran bersama akan mendorong lebih awal terhadap upaya pencairan suasana diantara mereka yang terlibat konflik. Diharapkan mereka belajar mengenal masing-masing dan menyadari pentingnya rencana bersama untuk menghentikan pertikaian dan membangun kebersamaan. mereka yang dibandingkan dengan para pemangku kepentingan yang lain.

Fasilitator dapat melakukan analisis konflik secara terpisah jika dianggap prosesnya terlalu berat dan sulit untuk disatukan dalam kegiatan bersama. Hal ini dapat dilakukan dengan memisahkan beberapa pemangku kepentingan dengan kepentingan yang berbeda. Meski demikian, pada tahapan tertentu, fasilitator dapat membagi tugas para pemangku kepentingan yang berbeda untuk menganalisis hal-hal yang spesifik dalam upaya mendorong pemahaman yang lebih baik mengenai perbedaan sudut pandang masing-masing pihak. Maksud dilakukan analisis partisipatif agar para pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama tentang apa, mengapa dan bagaimana konflik yang terjadi, serta implikasinya bagi semua pihak. Bagi pemangku kepentingan yang berbeda, hal ini dapat berarti mempersempit atau memperlebar cakupan dari isu-isu yang akan digali. Jika semua pihak sepenuhnya memahami proses, hal itu akan meningkatkan kapasitas dalam memecahkan permasalahan di masa datang.

Instrumen dan Alat Bantu

Konflik dapat dianalisis dengan bantuan sejumlah alat bantu atau instrumen penilaian sederhana, praktis dan dapat digunakan seusai dengan kondisi lokal. Pemanfaatan instrumen tersebut didasarkan pada tujuan, jenis data yang akan dikumpulkan dan kapasitas tim atau kelompok yang melakukan penilaian. Instrumen digunakan tidak secara kaku tetapi dapat diadaptasikan sesuai dengan situasi spesifik dan kebutuhan. Beberapa manfaat dari penggunaan instrumen atau alat bantu analisis konflik diantaranya:

  • Memberikan informasi dalam bentuk “peta mental” yang bermanfaat untuk menentukan pilihan kegiatan sebagai solusi dalam penyelesaian konflik. Instrumen bermanfaat pula sebagai panduan bagi para para pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi beberapa pertanyaan yang akan diajukan dan dikumpulkan untuk bahan kajian lebih lanjut.
  • Memvisualisasikan secara sederhana dan mudah dipahami tentang kondisi sosial dan konflik yang terjadi.
  • Membantu dalam menyusun pemahaman bersama tentang isu-isu konflik, kondisi kekerasan, peran kelembagaan dan hal-hal lain yang perlu digali sebagai bahan pengambilan keputusan.
  • Mendorong peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan termasuk masyarakat yang terlibat dalam konflik untuk memahami dan mengenal konflik secara benar dan menentukan kegiatan atau upaya penyelesaian dalam kerangka strategi pembangunan perdamaian secara berkelanjutan. Pemahaman bersama antara para pemangku kepentingan dan para mediator, termasuk pemahaman atas dampak konflik dan implikasinya terhadap penghidupan dan kepentingan banyak pihak.
  • Mendorong tukar-informasi dan studi silang tentang berbagai pengalaman yang berbeda dari masing-masing kelompok berkaitan dengan konflik yang dihadapi.
  • Menyediakan informasi esensial, pengecekan silang informasi, terutama ketika beberapa instrumen/alat digunakan untuk tujuan yang sama.

Fasilitator perlu memperhatikan beberapa hal berkaitan dengan kelemahan dan kesulitan yang dihadapi dalam menggunakan instrumen analisis konflik, diantaranya.

  • Perbedaan latar belakang budaya: Perbedaan nilai dan budaya sulit untuk dihindari, terutama hambatan komunikasi dan bahasa. Terkadang masyarakat sulit untuk menjelaskan dan mengekspresikan ide-ide, pengalaman, kekhawatiran dan kepentingan lainnya. Misalnya, kelompok petani yang sulit memahami tentang peta sosial dan potensi sumber daya yang harus mereka gambar dengan istilah yang beragam. Meskipun berdiskusi dan berdialog dengan bahasa yang sama, pihak luar sulit untuk memahami dan menghayati peristiwa, kejadian, atau nilai-nilai lokal yang berlaku. Pada saat yang sama, orang lokal tidak menyadari apa yang tidak diketahui oleh pihak luar.
  • Kendala bahasa, beberapa instrumen penilaian membutuhkan syarat penguasaan baca dan tulis, meski perangkat lainnya dirancang dalam bentuk komunikasi lain misalnya visualisasi bentuk, gambar atau simbol. Umumnya rancangan penilaian cepat (rapid assessment) berupaya menghindari hambatan ini, sehingga instrumen yang dikembangkan dapat diadaptasi dengan menggunakan bahasa atau pemaparan secara visual sehingga siapapun dapat memahami maksudnya.
  • Kendala waktu, ruang, keahlian dan sumberdaya lain: Persoalan keterbatasan kapasitas fasilitator dan para pemangku kepentingan yang terlibat dalam analisis konflik mungkin muncul terutama sebagian berlatar belakang pendidikan yang berbeda atau kurangnya pengalaman dalam menggunakan alat-alat itu. Disisi lain, beberapa petugas pemerintah, mendesak tercapainya penyelesaian secara cepat atau terdapat kekurangan sumberdaya dan keahlian untuk mengumpulkan informasi di tempat-tempat yang sulit dijangkau dalam waktu cepat.
  • Terbatasnya kualitas sumber informasi yang dapat diakses, fasilitator perlu menggali data sekunder di perpustakaan atau tempat tertentu yang jauh dan khusus, seperti arsip sejarah, dokumen data pemerintah dan dokumen lainnya yang bersifat rahasia. Fasilitator dan pemangku kepentingan jangan terlalu berambisi untuk menggali informasi yang dalam dan sangat rinci. Jika itu sulit didapat maka kaji ulang kembali pemahaman bersama tentang tujuan dan informasi rinci apa yang dibutuhkan dan dapat digunakan untuk menyusun kesimpulan atau generalisasi. Jangan sampai terjebak pada kesulitan untuk memperoleh data itu, tetapi cukup optimalkah data yang dihasilkan untuk pengambilan keputusan. Bisa jadi data tidak serinci yang dibayangkan tetapi cukup represntatif dan handal. Fasilitator perlu untuk menyeimbangkan tekanan dalam melakukan analisis konflik secara cepat atau terlalu sederhana, tapi juga harus mampu menentukan kapan informasi yang dikumpulkan telah mencukupi.
  • Peningkatan konflik diantara para pemangku kepentingan. Tidak dapat dihindari pada saat melakukan penilaian, fasilitator dihadapkan pada kondisi sulit, dimana terjadi ketegangan secara spontan pada saat menggunakan instrumen tertentu. Karena beberapa instrumen secara sensitif mampu menggali informasi mendalam menyangkut hal-hal spesifik. Dalam situasi ini, lebih sesuai untuk menangguhkan penggunaan alat-alat di publik atau memisahkan kelompok kepentingan dan menggunakan alat-alat untuk setiap kelompok secara terpisah.

Teknik Sosiogram

Teknik sosiogram digunakan untuk membantu dalam memetakan kekuatan hubungan pemangku kepentingan (stakeholder’s analysis) dapat menggunakan teknik visual bagan kelembagaan dan sosiogram untuk menunjukkan pola koordinasi, perintah dan tingkat pengaruh (tinggi, sedang, rendah). Hubungan tersebut dijelaskan dengan menggunakan simbol dan garis antarkelompok/lembaga. Jika pengumpulan informasi/data menunjukkan beberapa ketidak-harmonisan diantara kelompok/lembaga, maka Tim bersama masyarakat dapat menggambar keseluruhan hubungan tersebut, kemudian menentukan kelompok mana saja yang memiliki peran dan pengaruh cukup besar terhadap sengkata atau konflik. Beberapa cara yang dapat ditempuh diantaranya:

  • Mengidentifikasi keseluruhan kelompok atau lembaga terlibat dalam konflik.
  • Mengidentifikasi kelompok atau lembaga utama yang secara langsung berhadapan (kelompok primer) dan mengalami ketegangan (konflik) dan perlu penanganan dan pengelolaan konflik.
  • Mengindentifikasi kelompok (sekunder) yang tidak secara langsung berhadapan tetapi memberikan dukungan langsung kepada kelompok primer terhadap tindak kekerasan atau konflik.
  • Mengindentifikasi kelompok (tertier) yang memiliki aliansi (kekerabatan, hubungan baik, mitra) terhadap masing-masing kelompok yang berkonflik.
  • Identifikasikan pula kelompok/lembaga/organisasi lain yang memiliki pengaruh baik dari kesamaan visi, peran, dan kebijakan, serta hubungan-nya dengan pihak-pihak lain yang berkonflik.

Gambarkan bentuk dan pola hubungan tersebut secara menyeluruh dengan menunjukkan intensitas pengaruh dalam bentuk garis-garis tebal, tidak beraturan atau putus-putus.

Teknik Pohon Masalah

Teknik pohon masalah (problems tree) yang cukup dikenal dalam penelitian dan pemograman. Cara ini cukup popular dalam menggali akar permasalahan yang dihadapi oleh organisasi, komunitas atau masyarakat. ‘analisis apa’ merupakan alat untuk mengenal akar masalah yang dihadapi oleh para pihak yang bersengketa di wilayah perencanaan. Kajian ini dibuat dengan menggunakan teknik pohon masalah yang langsung dapat dikoreksi oleh tim perencana. Misalnya menggambar pohon masalah di tanah dengan tongkat atau papan tulis dengan kapur (atau whiteboard dengan spidol) dengan kartu yang berisi pokok-pokok persoalan yang dipahami oleh warga. Tim dapat melibatkan kelompok yang terlibat dalam konflik atau penduduk yang memahami peristiwa yang terjadi dan secara bersama-sama mendiskusikan temuan yang dihasilkan. Setelah diskusi, tim menyusun catatan dan mendokumentasi-kan gambar yang telah dibuat dengan menggunakan foto atau digambar ulang di atas kertas. Beberapa cara yang dapat ditempuh diantaranya:

Langkah 1 Lakukan kajian mendalam menyangkut berbagai isu, keluhan, keberatan dan masalah yang paling mendasar dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut;

  1. Apa yang menimbulkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang dirasakan oleh parapihak?
  2. Apa masalah utama yang menimbulkan rusaknya hubungan diantara para pihak?
Langkah 2 Jawab pertanyaan tersebut akan menentukan jenis masalah utama (inti) yang akan diletakkan sebagai batang. Misalnya perebutan lahan parkir, pemagaran lahan kelapa sawit oleh masyarakat, perkelahian antarpemuda, tingginya pengangguran, pengusiran warga, dsb.
Langkah 3 Jika terdapat lebih dari satu masalah maka pilih yang memiliki tingkat kepentingan/prioritas dan cakupan yang lebih luas.
Langkah 4 Berdasarkan masalah tersebut ajukan pertanyaan faktor-faktor penyebab masalah itu muncul. Dengan menempelkannya di bawah masalah inti sebagai akar. Setiap jawaban kemudian diajukan pertanyaan yang sama untuk masing-masing jawaban hingga ditemukan jawaban akhirnya.
Langkah 5 Setelah faktor penyebab masalah telah teridentifikasi secara lengkap, selanjutnya dari masalah tersebut diajukan pertanyaan “akibat apa saja yang ditimbulnya dari masalah tersebut?”. Tuliskan semua jawab dari masalah tersebut dalam bagian daun dan ranting pohon dan buahnya.

Teknik Sirip Ikan

Kajian analisis bagaimana menggunakan teknik Sirip Ikan atau dikenal dengan diagram Ishikawa (fishbone diagram) merupakan cara sederhana yang dapat digunakan pendamping bersama masyarakat untuk menggambarkan secara visual faktor-faktor pendukung (positif) dan penghambat (negatif) bina damai. Penggunaan teknik ini dapat dilakukan secara langsung bersama masyarakat dengan menggambarkan di tanah, papan tulis atau whiteboard. Analisis bagaimana digunakan untuk melengkapi penyusunan rencana pembangunan, dimana Tim perencana menggali informasi tentang kapasitas lokal untuk bina damai. Hal ini dilakukan untuk mengenal lebih dalam bagaimana konflik itu terjadi dan bagaimana menemukan cara penyelesaian, nilai-nilai, kebiasaan, budaya dan kearifan masyarakat dalam mencegah dan menanganinya. Beberapa cara yang dapat ditempuh diantaranya:

Langkah 1 Tuliskan masalah utama yang menyebabkan konflik di daerah atau yang berpengaruh terhadap program/kegiatan untuk tahun rencana.
Langkah 2 Lakukan analisis secara mendalam terhadap faktor-faktor pendorong (positif) yang diperkirakan dapat memperkuat bina damai dan meminimalisasi dampak konflik dan upaya pencapaian tujuan program.
Langkah 3 Lakukan analisis secara mendalam terhadap faktor-faktor penghambat (negatif) yang diperkirakan dapat menghambat upaya pencapaian tujuan prioritas.
Langkah 4 Tuliskan saran atau rekomendasi lintas sektor untuk mengoptimalkan kapasitas dan sumber daya yang mendorong pencapaian tujuan dan mengendalikan dampak negatif dari program yang diusulkan. Rekomendasi dapat bersifat saran untuk meredesain atau memformulasi-kan ulang program dengan menambah beberapa aspek kegiatan.

Memperkuat Kapasitas Lokal dalam Membangun Perdamaian

Berikut ini beberapa catatan penting dalam merumuskan rencana pembanguan berbasis perdamaian dengan mengupayakan pemanfaatan kearifan dan kapasitas lokal. Acuan ini diharapkan dapat membantu mengarahkan pola pikir dan proses kajian terhadap dinamika konflik dengan mendeskripsikan Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penyusunan program. Para perencana bersama elemen masyarakat lain dapat mengadaptasi proses ini sebagai salah satu alternatif dalam melakukan kajian terhadap dinamika konflik dengan tetap mempertimbangkan data profil daerah (propinsi atau kabupaten/kota). Tahapan Kajian Kapasitas Lokal dalam membangun perdamaian[1], sebagai berikut;

Langkah 1 Memahami Konteks Konflik

  1. Mengidentifikasi secara tepat ruang geografis dan sosial berkaitan dengan program pembangunan.
  2. Mengidentifikasi penyebab konflik antarkelompok dan kerawanan lain yang diperkirakan dapat menimbulkan peningkatan kekerasan.
  3. Bagaimana hubungan antara pelaku dan program pembangunan dengan konteks konflik?
Langkah 2 Analisis Pemecah (Dividers) dan sumber konflik
Langkah 3 Analisis Perekat (Connectors) dan Kapasitas Lokal untuk Perdamaian
Langkah 4 Analisis Bantuan dan Program PembanguanMengidentifikasi secara rinci pola dukungan, bantuan dan program pembangunan dan dampaknya bagi masyarakat dan upaya bina damai
Langkah 5 Analisis Dampak Program Pembangunan tentang Konteks Konflik melalui Transfer Sumber Daya dan Pesan Etis (nilai)

  1. Bagaimana dampak proses transfer sumber daya dan pesan etis (nilai) berdampak pada pemecah dan sumber konflik?
  2. Bagaimana dampak proses transfer sumber daya dan pesan etis (nilai) pada perekat dan kapasitas lokal untuk perdamaian
Langkah 6 Memformulasikan Pilihan Program

  1. Jika suatu elemen program pembangunan berdampak negatif terhadap pemecah (dividers)—penguatan sumber ketegangan  atau
  2. jika elemen tersebut memberikan dampak negatif terhadap melemahnya perekat (conncetors) dan kapasitas lokal.
  3. maka, formulasikan beragam pilihan yang mungkin untuk meminimalisasikan pemecah (dividers) dan memperkuat perekat (connectors).
Langkah 7 Uji Pilihan dan Redesain ProgramLakukan pengujian berdasarkan pengalaman;

  1. Apa dampak potensial pemecah atau sumber konflik?
  2. Apa dampak potensial tentang perekat atau kapasitas lokal untuk perdamaian?
  3. Gunakan yang terbaik dan optimalkan berbagai pilihan untuk meredesain program.

[1] Sumber; diadaptasi dari CDA (2004:5), The Do No Harm Handbook: The Framework for Analyzing the Impact of assistance on Conflict. Cambridge: CDA Collaborative Learning Projects dalam Wahjudin Sumpeno (2010) Panduan Teknis Operasional Pendekatan Pembangunan Peka Konflik bagi SKPD, The World Bank: Banda Aceh

4 thoughts on “Teknik Analisis Konflik

  1. …terima kasih banyak, semakin menambah wawasan dan khasanah berfikir dan bertindak bagi saya selaku Fasilitator di PNPM-Mandiri Perdesaan, hanya ALLAH SWT yang mampu membalasnya….

  2. Salam. Bagus sekali Pak, mohon izin saya salin n jadi referensi, semoga Allah swt selalu meridhoi Bapak dalam kebaikan dan keselamatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s